Mari Menyamakan Persepsi

  Pernahkah terpikirkan oleh kita bahwa perbedaan modal dasar yang dimiliki setiap manusia  di dunia ini ternyata tidak ada. Persepsi yang terbentuk di masyarakat selama ini sepertinya menyebabkan manusia kurang bisa melihat lebih dalam apa makna di balik suatu kehidupan. Mari kita melihat dari sisi yang paling dasar yang dimiliki manusia yaitu gen. Ilmu genetika sendiri menerangkan bahwasannya bagian gen yang disebut kromosom sebagai pembawa sifat pada setiap manusia normal memiliki susunan, jumlah, fungsi dan ekspresi yang sama. Tak ada satu halpun yang dapat membedakan manusia per manusia dari segi kromosomnya. Tentu saja hal itu bisa dibuktikan dengan  susunan asam amino DNA dan RNA yang sangat typical pada semua manusia. Dapat diambil kesimpulan bahwa semua manusia yang lahir di bumi ini mempunyai modal dasar yang sama.  

Jadi apa kiranya yang menyebabkan kita berbeda? Mengapa masyarakat  yang hidup di Negara-negara maju seperti Amerika, Singapura terasa lebih bisa dihargai? Sesuai dengan judul tulisan ini sebelumnya mari kita menyamakan persepsi apa yang dimaksud Negara maju. Negara bisa menjadi maju dengan GNP yang tinggi tentunya tidak akan terlepas dari peran sistem dan stuktur yang ada di dalamnya. Mulai dari negara ke provinsi kemudian pemerintah daerah selanjutnya masyarakat kemudian keluarga dan akhirnya manusia. Peran manusia yang ada dalam masyarakat adalah penentu utama maju atau tidaknya suatu Negara. Bagaimana mungkin modal bawaan setiap manusia sama dan dengan stuktur Negara yang sama pula dapat memberi hasil berbeda. Berarti ada kiranya suatu hal utama dibalik semua ini yang sangat mendasari manusia untuk dapat  berperan lebih dari manusia yang lain. Pernahkah terpikirkan oleh kita hal utama itu adalah akhlak. Sesuatu yang sering disebut-sebut dari dahulu namun sepertinya kurang dimengerti makna luas yang terkandung didalamnya. Lagi-lagi kita harus menyamakan persepsi terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan akhlak. Akhlak adalah sikap dan perilaku yang timbul bila ada stimulus atau rangsang yang dihadapi. Contohnya, ketika terjadi kebakaran di dalam gedung bioskop.  Berbagai sikap dan perilaku berbeda-beda timbul pada setiap manusia untuk menanggapi stimulus kebakaran tersebut. Si A mungkin akan berteriak kebakaran. Si B mungkin akan diam diam meninggalkan gedung bioskop. Si C mungkin akan berusaha mengambil alat pemadam kebakaran darurat. Mana yang paling benar? Tentunya yang paling profesional.  

Tidak bosan-bosan kita akan menyamakan persepsi kembali apa itu profesional. Profesionalism adalah melakukan sesuatu secara tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Tidak mudah untuk menyikapi hal yang kita hadapi dengan akhlak  profesional. Misalnya hal yang menyangkut makan. Hampir semua kita mengetahui  aturan makan dimana seharusnya kita makan ketika kita lapar dan berhenti sebelum kenyang. Pada kenyataannya banyak manusia yang sulit membedakan antara lapar dan hasrat untuk mengunyah. Dapat dilihat bahwa sebagian besar manusia dalam sehari-harinya hidup dalam ketidakprofesionalan.   Dalam sudut pandang agama dikatakan dalam kitab suci al-Qur’an “Bahwa tidak Kuturunkan Nabi dan Rasul ke muka bumi ini selain untuk meningkatkan akhlak manusia”. Tidak dikatakan untuk meningkatkan GNP atau lainya tapi Akhlak. Begitu hebat akhlak dapat membawa perubahan di muka bumi. Pertanyaannya sekarang bagaimana agar apapun yang kita lakukan selalu berlandaskan akhlak profesional. Melakukan tentu saja tidak semudah mengatakan, penerapannya membutuhkan kesadaran dan kemauan sebagai hal yang pertama. Selanjutnya yang kedua rencana dan evaluasi yang matang dalam segala tindakan juga dibutuhkan. Dan yang terakhir juga dibutuhkan pengalaman akan keberhasilan dan kegagalan yang pernah kita hadapi karena tidak ada manusia yang sempurna di di dunia ini. Pada akhirnya sebelum melakukan tindakan apapun baik kecil maupun keputusan besar kita harus memikirkan apakah tindakan kita berlebihan atau malah justru kekurangan. Sulit memang tapi dengan sejalannya waktu tentu kita akan terbiasa sehingga cita-cita kita menciptakan negara maju dapat tercapai. Adel Jan 2005.  

Leave a comment »

Trip to Germany (1)

Kisah Sang “Envoy”

Suara Pembaruan Sunday, December 17 2006

“Semua tersentak kaget saat namaku dipanggil sebagai salah satu pemenang Bayer Young Environmental Envoy (BYEE) 2006 yang akan berangkat ke Jerman bersama tiga duta lainnya. Begitu pula diriku, tidak kusangka dan kuduga sedikitpun namakulah yang akan dipanggil sebagai pemenang terakhir. Perasaanku saat itu bersyukur, bahagia, bingung, kaget, semua bercampur menjadi satu. Langsung saja kudatangi kursi ibuku di bagian penonton untuk memeluknya.” Demikian kisah Ade Dwi Lestari kepada Pembaruan, awal November lalu, mengenang saat-saat dirinya terpilih sebagai salah satu envoy.

Sebelumnya Ade bersama 179 calon envoy lainnya telah menjalani beberapa kali saringan, dan akhirnya dia bersama Fika, Reni, Siswadi terpilih berangkat ke Jerman mengikuti BYEE 2006. Di forum internasional itu mereka akan bertemu teman-teman envoy dari 15 negara lainnya.

“Bagi kami berempat yang belum pernah menginjakkan kaki di Jerman, kesempatan itu merupakan hal yang “exciting”, sulit diungkapkan dengan kata-kata. Apalagi untuk pergi jauh ke sana secara gratis. Pada awalnya semua seperti mimpi,” ujarnya.

Menurut Ade, selama enam hari di Leverkusen, sebuah kota kecil di Jerman, dia mendapatkan banyak pengalaman berharga. Tidak hanya berkenalan dengan teman-teman dari negara lain, tapi dia juga merasa mendatangi negara mereka masing-masing.

“Karena setiap envoy mempunyai ciri khas negaranya dan kami saling bertukar cerita mengenai negara kami. Kami pun diharuskan untuk mempresentasikan proyek kami di depan teman-teman envoy lainnya. Proyek yang membuat kami dipilih untuk sampai ke sana, termasuk juga diriku,” papar calon dokter dari Universitas Trisakti ini.

Bagi Ade yang berlatar belakang kedokteran, yang biasanya bekerja di belakang meja dan tidak banyak berhubungan dengan orang, berbicara di depan publik internasional merupakan hal baru. Apalagi publik yang mayoritas berlatar belakang lingkungan. “Tapi untunglah proyek yang saya bawakan mengenai tanaman obat, sehingga sedikit banyak berkaitan juga dengan lingkungan dan keanekaragaman hayati,” kata gadis manis berjilbab ini.

Dengan gaya bertutur, Ade mengisahkan lebih jauh kesannya selama mengikuti BYEE 2006. “Setiap hari kami mendapatkan kuliah mengenai hal-hal berkaitan dengan lingkungan yang telah diterapkan di negara tersebut, terutama di Kota Leverkusen, dan me- lakukan peninjauan langsung ke lapangan.

Mungkin pandangan selayaknya mahasiswa kedokteran pada umumnya, ketika mendengar nama Bayer yang tersirat dalam pikiran adalah sebuah perusahaan farmasi. Namun kunjungan ke pabrik Bayer di Leverkusen mengubah pikiran saya, Bayer merupakan perusahaan besar yang ternyata juga bergerak dalam industri kimia serta pertanian dan perkebunan.

Dari semua kunjungan yang paling membuat saya terpukau adalah sistem pengolahan sampah di kota tersebut. Sampai saat ini masih teringat jelas dalam pikiran saya bagaimana warga Leverkusen mengantre bersama mobil masing-masing untuk membuang sampah. Tempat pembuangannya pun ‘menakjubkan’, maaf jika sedikit kampungan. Tapi memang kami terlihat seperti itu di sana,” paparnya.

Katanya, teman dari negara-negara lain pun yang notabene lebih maju dalam hal pengolahan sampahnya, juga merasa takjub. Ada puluhan tempat sampah yang telah dipilah-pilah sesuai bahan dasar sampah, dan masyarakat dapat langsung dengan mudah memilah dan membuang sampah mereka serta membayarnya. Bayangkan saja membayar untuk membuang sampah sendiri. “Namun bagi saya selalu ada rasa yakin bahwa suatu saat Indonesia dapat seperti itu,” katanya.

Setelah sampai di Tanah Air ternyata semua yang tadinya serasa mimpi telah berubah menjadi tanggung jawab. Sebuah tanggung jawab moral yang harus berbuat lebih banyak dan lebih banyak lagi untuk negara tercinta ini.

“Bagi kami berempat yang mempunyai latar belakang berbeda-beda, kesempatan yang kami dapatkan merupakan anugerah Tuhan yang harus kami syukuri dengan membawa perubahan dalam bidang kami masing-masing. Pada akhirnya, makna lingkungan itu sangat luas dan tidak terbatas. Apapun yang kita lakukan pasti berhubungan dengan lingkungan di mana kita tinggal, bernaung dan berlindung sampai anak cucu kita nanti,” urainya. [M-12]

Leave a comment »